Showing posts with label organization. Show all posts
Showing posts with label organization. Show all posts

Monday, March 27, 2017

5 Ways Organizational Culture Impacts a Brand

5 PLACES ORGANIZATIONAL CULTURE SHOWS UP




With employee culture in the headlines, here are five ways you might not be aware your organizational culture is impacting your business, for better or for worse. 

The impact that organizational culture can have on a brand and on business profitability extend much further than employee satisfaction or employee turnover. In other words, the proof is in the pudding.

Business professionals across the globe have been talking about the importance of employee culture in the wake of the New York Times article describing Amazon culture and employee working conditions in less-than-stellar terms. While experts, ex-employees and current Amazon workers continue to weigh in on organizational culture there specifically, it’s a topic that every brand should explore. Problems in the organizational culture can create problems in many other areas of an organization. On the other hand, when you get it right, a positive employee culture can make many other parts of a business better. 

ORGANIZATIONAL CULTURE: THE PROOF IS IN THE PUDDING

Have you ever wondered about the origin of the phrase, “The proof is in the pudding?” It’s not talking about physical evidence; rather, it refers to the results. A more accurate rendering would probably be, “the proof is in the eating.” Meaning, whether or not the dish contains good ingredients and has been properly prepared will be evident when it is sampled and consumed.

The proof is in the pudding is a great analogy for organizational culture!

When it comes to organizational culture, it’s more than just having the right recipe and the right ingredients. It’s also about whether the recipe is actually followed correctly, whether it’s served up at the right temperature, at the right time, to people who are hungry for it – and a host of other variables. Perhaps that’s why actually producing a buzz-worthy, talent-attracting, customer-retaining organizational culture is so very, very difficult to achieve. 

5 AREAS ORGANIZATIONAL CULTURE SHOWS UP TO HELP OR HURT A BRAND

Customer Acquisition

Few things are more important to sustaining and growing a business than the customer experience. One bad experience gone viral can influence hundreds – or thousands – of buyers to take their business elsewhere. On the other hand, a customer experience that is unique and positive in a way that surpasses expectations could help a business attract new customers it might not ever have been able to reach.

A bad organizational culture cannot sustain a pattern of good customer experiences. Sooner or later (and probably sooner) the negativity felt behind the curtain will show up on the buyer’s side of the equation.

Employee Turnover

If more organizations took the time to tally up the true cost of high employee turnover, they would surely begin to realize that organizational culture may play a much bigger role in employee satisfaction than they ever realized. Talented employees usually know that they have the ability to work somewhere else if they aren’t happy, and for most employees, good pay is not going to compensate for the angst, stress and unhappiness experienced in a bad employee culture.

Not only will employees quit a poor culture, they’ll leave reviews about it on sites like Glassdoor that will steer other quality hires away.

Brand Reputation

As Amazon just found out, even merely the accusation that your corporate culture is suspect can be enough to cast doubt on a good brand reputation. Once the word gets out that the values on the inside might not match up to what the public thought was true, it will be an uphill battle to convince them that your brand has an admirable company culture.

Customer Retention

Customer retention and loyalty are highly dependent on whether customers feel good about doing business with you. If they have a bad experience with your company or public damage to your brand undermines the pride they felt about doing business with you, their loyalty and patronage may be up for grabs.

Profits and Profitability

If you have a subpar organizational culture, you can plan to spend more on nearly every facet of human resources and marketing. You will have to spend more on marketing and advertising to attract an adequate number of customers. You will have to invest more time and resources on recruiting, hiring and training due to high employee turnover. You will have to spend time and money on marketing and PR to correct misunderstandings or improve the way people perceive your brand, and you might have to spend a lot more on philanthropic and community efforts to repair your brand image once it’s been damaged. 


Saturday, September 24, 2016

Cukup Kuatkah Branding Indonesia?





Apa yang terlintas di benak kita kala nama New Zealand disebut? Mungkin jawabannya bisa beragam, akan tetapi mungkin tidak jauh-jauh dari alam yang indah, pegunungan menjulang yang bersalju, padang rumput yang penuh sapi dan biri-biri gemuk, air terjun, olahraga extreme, dan mungkin Lord of The Rings atau Hobbits. Maka ketika slogan New Zealand adalah "100% New Zealand", semua orang akan kemudian yakin,...ah...ini adalah produk New Zealand, dijamin menyehatkan. Hal semacam itu lah.


Selandia Baru

Lalu bagaimana dengan Jerman? Saya pribadi langsung terlintas mesin mesin yang hebat dan canggih, mobil-mobil yang mewah dan kencang, serta teknologi mutakhir yang dijamin kualitasnya. Kita tidak perlu pikir panjang jika suatu produk adalah Made in Germany.


German Engineering

Tetangga-tetangga kita juga mati-matian membangun branding. Australia termasuk yang paling sukses. Ketika nama Australia disebut, orang biasanya akan terlintas sebuah petualangan dan penjelajahan, rumah-rumah besar dengan halaman yang luas, great barrier reefs, mobil-mobil 'outback', celana pendek petualang, dan semacam itu. Singapura, tentu saja sudah sangat berhasil.


Keruwetan di Bangadesh

India, Bangladesh, Pakistan, Srilanka, Filipina, mungkin termasuk yang gagal (atau bahkan mereka tidak pernah mencoba) membangun nation branding. Hampir semua orang mengasosiasikan India, Bangladesh, dengan kereta api tua yang penuh sesak, tidak teratur, dengan orang-orang yang berpakaian lusuh..jalan-jalan yang semrawut, kabel-kabel listrik yang terjuntai tak teratur, orang-orang yang tidak tersenyum, dll. Srilanka hampir sama.


Gunung Sampah Manila yang Mendunia

Sementara Filipina, negeri yang sebenarnya "pernah" maju pada 1960-an, akan diasosiasikan dengan sampah yang menggunung di Manila, perkampungan-perkampungan kumuh, atau pemberontakan berlarut-larut di selatan.

Bagaimana dengan Indonesia?

  • Marilah kita berpikir bersama, dengan beberapa petunjuk dibawah ini*:
  • Apakah negara kita diasosiasikan dengan makanan yang tidak enak, terkenal, dan standar hidup yang tinggi?
  • Apakah orang lain sering bisa dengan cepat menunjukkan letak negara kita di dalam peta?
  • Apakah negara kita tidak terkait dengan negative stereotype dan prasangka buruk?
  • Apakah orang-orang dari negara kita disukai?
  • Apakah orang lain tidak mengenali bendera negara kita?
  • Apakah produk-produk dari negara kita dipersepsikan sebagai top class dan berkualitas baik?

Nah, yang bisa menjawab kita sendiri.

Ketika saya mintai pendapat, seorang teman saya dari Thailand juga bingung memberikan branding buat Indonesia. Karena begitu besar dan beragamnya Indonesia, maka sulit mencari satu branding yang paling pas.

Saya rasa yang paling pas adalah bahwa ketika orang menyebut Indonesia, yang terlintas adalah pulau-pulau dengan pantai pasir putih, produk perkebunan dan pertanian yang berkualitas tinggi, dan disukai, orang-orang yang selalu tersenyum, pohon-pohon kelapa, makanan-makanan tradisional yang selain menggoda juga 'ngangenin", kebun-kebun rindang, pedesaan dan pematang sawah yang hijau.

Tentu, kita perlu sepakat bahwa nge-branding seperti apapun takkan berguna bila politik dan keamanan tak terjaga, pemerintah yang tidak sigap, media sering mengolok-olok negeri sendiri, dan kita...yes you and me, tak mahir nge-branding ini.

Cara mengukurnya, untuk saat ini, mudah. Google 'Singapore" di image, dan Google "Indonesia" di image. Rasakan bedanya..

Bisakah kita perbaiki dari sekarang?


source

Tuesday, January 27, 2015

Menjadi Dropshipper Sukses




Bagi kebanyakan orang, dropshipper dianggap sebagai usaha sampingan yang bisa dilakukan sembari beraktifitas kerja lainnya entah menjadi guru, pegawai sipil, karyawan dan buruh . Masyarakat masih menganggap bahwa bisnis dropship ini belum bisa dijadikan sebagai penghasilan utama lantaran sistem kerjanya hanya menjual gambar saja via facebook, twitter, instagram dll. Padahal, menjual produk diinternet itu tidak membedakan antara orang yang mempunyai produk ataupun tidak, semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan kue keuntungan dari menjual secara online.

Alasan mengapa bisnis dropship ini masih menjadi usaha sampingan lantaran skema bisnis ini hanya dijadikan sebagai batu loncatan terutama bagi karyawan yang ingin memiliki usaha utama namun diawali dengan modal kecil. Memang benar, untuk menjadi dropshipper tidak butuh modal banyak untuk biaya operasional, berbeda jika menjual secara nyata dengan mendirikan toko atau berjualan dipinggir jalan. Nah, bagi anda yang ingin menjadikan bisnis dropship ini sebagai penghasilan utama, berikut tipsnya :

1. Berhenti bekerja (Resign)

Jika ingin menjadikan usaha drospship ini sebagai penghasilan utama, maka anda harus keluar dari pekerjaan nyaman anda sekarang. Beruntung jika anda memulainya dari pengangguran, anda tidak punya pilihan. Tapi justru nasib malang bagi anda yang saat ini masih menjadikannya sebagai usaha sampingan selepas kerja dari kantor.

Mau jadi penghasilan utama bagaimana kalau anda sendiri masih punya penghasilan tetap perbulan? dikatakan sebagai penghasilan utama jika itu satu-satunya pendapatan anda. Selain itu, manfaat yang bisa anda rasakan dari resign yakni anda punya waktu luang yang lebih untuk mempelajari teknik marketing terbaru yang sekiranya bisa dimanfaatkan untk memasarkan produk dari suplier .

2. Jangan andalkan media gratisan

Jika saat ini anda masih menggunakan media gratisan untuk memasarkan produk dari suplier , maka saatnya untuk beralih ke yang berbayar. Tinggalkan secara perlahan-lahan situs jual beli listing semacam olx atau berniaga, forum jual beli, facebook dengan menambahkan teman yang tidak anda kenal dan mungkin tidak tertarik sama sekali dengan produk anda, atau menggunakan media instagram yang jelas-jelas bukan tempat jualan.

Boleh memakai media gratisan namun yang sekiranya tepat untuk berjualan, contoh situs marketplace semacam tokopedia, lamido dkk. Berbeda dengan situs jual beli, situs marketplace melindungi pihak penjual dan pembeli akan transaksi penipuan karena situs marketplace menyediakan sistem rekening bersama gratis bagi kedua belah pihak, sedangkan situs jual beli hanya bersifat menampilkan iklan anda dalam kurun waktu yang singkat.

Jika ingin menggunakan media facebook , gunakanlah iklan berbayar, bangun komunitas tentang produk anda sehingga mereka pembeli akan loyal terhadap produk anda. Selain itu, buatlah toko online sendiri untuk investasi jangka panjang. Anda tidak ingin bukan mendadak kaya dari situs jual beli listing dalam waktu singkat setelah itu jatuh tertimpa lagi lantaran anda tidak bisa beriklan di situs tersebut?

3. Belajar Marketing

Menjual produk secara online tidak semudah yang dibayangkan, anda berhadapan dengan mesin. Jika anda berpikir, saya punya 5000 teman di facebook dan 200 pengikut, sekiranya saya pasang status tentang produk yang saya jual pasti mereka akan melihat, dan jika mereka tertarik mereka (teman facebook) akan bbm atau sms menanyakan perihal produk tersebut. Pernyataan anda mungkin benar 100% jika anda berjualan di tahun 2009 kebawah saat algoritma facebook belumlah berubah seperti sekarang .

Sekarang anda punya 5000 teman facebook bukan jaminan dalam sehari anda bisa menjual minimal satu produk saja via facebook, apalagi jika 5000 teman tersebut jarang beraktifitas dengan anda baik itu kirim pesan, like status dll. Paling hanya 5% dari total teman anda yang akan melihat status yang anda bagikan. Dari 5% tersebut, berapa persen yang akan menghubungi anda menanyakan produk, lalu dari yang penanya tersebut berapa persen yang akan membeli .

Sekiranya anda perlu belajar marketing baik itu marketing sosial media ataupun marketing mesin pencari, ilmu seperti ini bisa anda dapatkan via internet dengan gratis tanpa dipungut biaya apapun. Yang perlu anda lakukan hanyalah belajar dan praktikan.

Saturday, November 15, 2014

Menilik Alokasi Dana Desa

Perkembangan desentralisasi, memaksa lahirnya perubahan kebijakan. 

111514 Menilik Alokasi Dana Desa
Desa telah ada sebelum NKRI diproklamasikan kemerdekaannya oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Ini tercatat dalam Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 (sebelum perubahan), “Dalam territori Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 “Zelfbesturende landschappen” dan “Volksgemeenschappen”, seperti desa di Jawa dan Bali, Nagari di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang, dan sebagainya.
Konsep desentralisasi dalam pemerintahan daerah memang selalu berkaitan dengan penyerahan kewenangan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. Perkembangan desentralisasi, termasuk desentralisasi fiskal, yang dinamis telah ikut memaksa lahirnya perubahan dalam kebijakan tata kelola desa, tak terkecuali strategi pembangunan di wilayah perdesaan. Guna menghadapi tantangan tersebut dan mengurangi kesenjangan antara kota dan desa, pemerintah bersama-sama dengan DPR telah menetapkan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa).
Pasal 72 ayat (1) dan (2) UU Desa menyebutkan bahwa salah satu sumber pendapatan desa berasal dari alokasi APBN dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara merata dan berkeadilan. Dalam UU Desa, sumber pendapatan desa berasal dari alokasi APBN disebut Dana Desa. Dana Desa digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Ini berarti bahwa daerah juga akan mendapatkan alokasi Dana Desa selain alokasi transfer ke daerah yang sudah diterima selama ini.
Selain Dana Desa yang bersumber dari APBN, berdasarkan Pasal 72 ayat (1) UU Desa, pendapatan desa juga bersumber dari pendapatan asli desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa, bagian dari hasil PDRD kabupaten/kota, alokasi Dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota, bantuan keuangan dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota, hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga, dan lain-lain pendapatan desa yang sah.

Alokasi Dana Desa

Menurut UU Desa besaran alokasi Dana Desa ditentukan 10% dari total dana transfer ke daerah. Dana Desa mulai dialokasikan dalam APBN 2015 sebesar Rp9,1 T. Jumlah ini memang tidak sebesar yang digembar-gemborkan saat kampanye Pilpres kemarin. Dalam penjelasan umum PP Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa disebutkan bahwa alokasinya akan dipenuhi secara bertahap sesuai dengan kemampuan APBN.
Pengalokasian dana desa berasal dari belanja pusat yang di dalamnya terdapat dana program berbasis desa. Salah satu contoh dana program berbasis desa adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Salah satu output kegiatan ini adalah PNPM Mandiri Perdesaan yang tersebar pada 5.300 kecamatan.
Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2014, besaran Dana Desa yang telah ditetapkan dalam APBN dialokasikan ke desa dalam dua tahap. Tahap pertama, pemerintah mengalokasikan Dana Desa kepada seluruh kabupaten/kota sesuai dengan jumlah desa dan dihitung dengan memperhatikan variabel jumlah penduduk (30%), luas wilayah (20%), dan angka kemiskinan (50%). Hasil perhitungan tersebut selanjutnya disesuaikan dengan tingkat kesulitan geografis yang dicerminkan oleh variabel indeks kemahalan konstruksi (IKK) masing-masing kabupten/kota.
Tahap kedua, berdasarkan alokasi Dana Desa masing-masing kabupaten/kota, bupati/walikota menghitung alokasi Dana Desa setiap desa di wilayahnya berdasarkan variabel jumlah penduduk desa (30%), luas wilayah desa (20%), dan angka kemiskinan desa (50%). Hasil perhitungan tersebut selanjutnya disesuaikan dengan tingkat kesulitan geografis masing-masing desa yang ditetapkan oleh bupati/walikota. Tingkat kesulitan geografis antara lain ditunjukkan dengan faktor kesediaan pelayanan dasar serta kondisi infrastruktur dan transportasi.
Tata cara pembagian dan penetapan besaran Dana Desa setiap desa ditetapkan dengan peraturan bupati/walikota. Penyaluran Dana Desa dilakukan melalui mekanisme transfer ke APBD kabupaten/kota untuk selanjutnya ditransfer ke rekening kas desa dalam tiga tahap penyaluran. Tahap I dan II disalurkan pada bulan April dan Agustus masing-masing sebesar 40%, serta tahap III sebesar 20% pada bulan November.
Dalam rangka mewujudkan pengelolaan Dana Desa yang tertib, transparan, akuntabel, dan berkualitas, pemerintah dan kabupaten/kota diberi kewenangan untuk dapat memberikan sanksi berupa penundaan penyaluran Dana Desa dalam hal laporan penggunaan Dana Desa tidak/terlambat disampaikan. Di samping itu, pemerintah dan kabupaten/kota juga dapat memberikan sanksi berupa pengurangan Dana Desa apabila penggunaan dana tersebut tidak sesuai dengan prioritas penggunaan Dana Desa, pedoman umum, pedoman teknis kegiatan, atau terjadi penyimpanan uang dalam bentuk deposito lebih dari dua bulan.
Dalam prinsip penganggaran, kita mengenal istilah money follows function. Prinsip tersebut mengharuskan Pemerintah Desa untuk menyelenggarakan fungsi pelayanan kepada masyarakat dan penyelenggaraan pemerintah yang baik dengan program kerja yang terarah. Tentu saja penerapan prinsip tersebut memerlukan kesiapan kelembagaan dan perangkat desa. Penyelenggaraan pemerintahan desa yang berdasarkan prinsip money follows function wajib diterapkan dalam rangka penyaluran Dana Desa agar seluruh kegiatan pemerintah desa memiliki output dan outcome yang optimal.
Kapasitas perangkat harus memadai agar dalam pengelolaan Dana Desa tidak terjadi kesalahan maupun penyelewengan. Perangkat desa harus dibekali pengetahuan dan mempunyai kualifikasi teknis di bidang pemerintahan, administrasi perkantoran, administrasi keuangan, dan perencanaan. Dalam rangka pengelolaan dan pengawasan keuangan desa yang lebih akuntabel dan transparan, maka publikasi APBDes juga perlu dilakukan.
Bukan hal daif memang ketika kita berbicara tentang desa. Tarik-menarik kepentingan di antara pihak-pihak terkait sulit untuk ditepis. Sebagai kepanjangan tangan pemerintah yang langsung bersentuhan dengan masyarakat warga desa, Pemerintah Desa harus memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat desa untuk bangkit membangun dirinya, membangun lingkungan desa agar lebih tertata tanpa meninggalkan segala aspek budaya dan keindahan desa yang sejuk dan memiliki makna bahwa membangun negara tidak harus ke kota. Karena membangun desa adalah membangun negara. 

Tuesday, July 9, 2013

MEMBANGUN MENTAL WIRAUSAHAWAN MUSLIM MUDA






Adalah pada saat ini, kita banyak mendengar tentang kewirausahaan / entrepreneurship, pelakunya disebut entrepreneur / pengusaha / pebisnis / wirausahawan. Banyak orang yang berusaha mendefinisikan bahkan membakukan konsep kewirausahaan, namun sebuah keniscayaan bahwa kewirausahaan merupakan proses kemandirian seseorang di dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya dengan berbasis pada proses bisnis/usaha yang diciptakannya. Kenapa harus berbasis pada proses bisnis atau usaha yang diciptakannya? Karena bisa jadi, seseorang memiliki kemandirian di dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari namun dengan cara bekerja pada orang lain. Menjadi wirausaha adalah merupakan pilihan hidup sebagaimana profesi lainnya. Bahkan, zaman sekarang wirausaha sudah menjadi tren, tidak seperti zaman dulu yang memandang wirausaha sebagai kelas kesekian dalam status sosial.

Membangun bisnis memerlukan dua proses utama, yaitu proses membangun mental berwirausaha dan proses manajerial bisnis (dimulai dari proses identifikasi gagasan bisnis, menyusun proposal bisnis, menyusun visi, misi, strategi bisnis hingga proses mengelola bisnis). Proses yang paling penting (critical) adalah proses membangun mental. Dibutuhkan waktu dan pengalaman praktek bisnis yang lama untuk bisa memiliki mental baja dan naluri di dalam berbisnis. Itulah sebabnya mental bisnis ini perlu dibangun sejak muda. Orang muda masih banyak energi dan kreativitas untuk mengembangkan bakat dan bereksperimen di dalam bisnis karena, sangat mungkin, untuk bisa mencapai keberhasilan dalam bisnis harus melalui serangkaian kegagalan dan waktu yang lama.

Tidak dipungkiri lagi, bahwa kewirausahaan menjadi bahan perbincangan dikarenakan tidak seimbangnya antara lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja. Akan ke mana tenaga kerja terdidik kita jika tidak terserap lapangan kerja? Tentu harus menciptakan sendiri lapangan kerja toh mereka masih muda-muda dan energik. Pertanyaannya, sulitkah menciptakan lapangan kerja? Tidak sulit. Kita hanya perlu untuk bersabar dan bertawakal di dalam menjalankan seluruh proses untuk mencapai mimpi sukses di dalam bisnis. Jika kita berhenti berusaha dan bertawakal sebelum mimpi tercapai, maka disitulah letak kegagalan dalam berbisnis. Keberhasilan mencapai kesuksesan di dalam berbisnis bukan hanya dirasakan oleh diri sendiri melainkan dirasakan juga oleh orang lain.

Kita perlu mencontoh spirit kewirausahawanan dari para generasi salaf. Biasanya, kita akan merasa termotivasi jika ada sosok yang kita idolakan, kita ambil idola generasi salaf. Meski zaman dan permasalahan telah berbeda, tapi kita tiru kegigihan dan semangat mereka di dalam berbisnis. Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana Rasulullah n sudah merintis bisnis sejak usia belia. Berdagang dari Arab hingga Syam, naik onta. Renungkan, bagaimana mudahnya kita saat ini bepergian memakai kendaraan. Daya jangkau pun lebih luas. Selain itu, ada juga sahabat Abdurrahman bin Auf yang dengan mantapnya menolak tawaran harta dan (calon) istri dari shahabat Anshor dan lebih memilih untuk ditunjukkan lokasi pasar di Madinah. Generasi salaf mampu membangun bisnis tanpa mengenyampingkan orientasi akherat. Bisnis mereka luar biasa tapi infak dan sedekahnya di jalan Allah tak pernah putus. Bisnis generasi salaf benar-benar membawa keberkahan bagi masyarakat di zamannya.

Hal mendasar yang perlu dipersiapkan oleh wirausahawan muda adalah ilmu tentang prinsip-prinsip ekonomi di dalam Islam. Salah satu prinsipnya adalah sebagaimana pesan Khalifah Umar bin Khattab radhialllahu’anhu kepada kaum Muslimin: “Hendaklah tidak berdagang di pasar kita selain orang yang telah faham (berilmu), jika tidak, ia akan memakan riba (ucapan beliau ini dengan teks demikian ini dinukil oleh Ibnu Abdil Bar Al Maliky). Prinsip terpenting lainnya adalah hukum asal setiap transaksi adalah halal. Sebagaimana kaidah fikih, “ Hukum asal dalam segala hal adalah boleh hingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya.” Kaidah ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 29 yang artinya:

“Dialah yang menciptakan untuk kamu segala hal yang ada di bumi seluruhnya.”

Sedangkan, sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mendukung kaidah tersebut adalah:

“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Musim).

Prinsip yang ada di dalam konsep ekonomi Islam akan menjadi dasar pemilihan jenis dan aktivitas bisnis. Sebagai seorang muslim, tentu harus memiliki perbedaan dengan orang kafir di dalam berbisnis. Bisa jadi bisnis kita menjadi sarana dakwah kepada orang kafir.

Banyak dari kita memiliki gagasan bisnis, namun seringkali hanya terhenti samapi di situ. Akibatnya, kita merasa bosan untuk memulai bisnis. Seakan-akan ada tembok besar yang menghalangi untuk menjalankan bisnis. Barangkali masih ada pemahaman yang keliru di dalam diri kita. Dalam web pribadinya --fadelmuhammad.org, Fadel Muhammad menjelaskan tentang  mitos yang biasanya menghinggapi pebisnis pemula:

Mitos 1: Entrepreneur adalah pelaku, bukan pemikir. Mitos ini mengakibatkan orang yang bertipe pemikir menjadi kurang percaya diri untuk membangun bisnis. Sebenarnya tidak perlu diperdebatkan karena seseorang yang bertipe pemikir atau pelaku memiliki kesempatan untuk menjadi entrepreneur. Bahkan kedua tipe ini perlu untuk berbagi peran jika kedua tipe ini bersepakat menjalin kerja sama bisnis.

Mitos 2: Entrepreneur itu dilahirkan, bukan diciptakan. Mitos ini didasarkan pada pendapat bahwa pengusaha itu sudah bakat sejak lahir, sehingga sulit dan tidak bisa dipelajari. Jadi, yang tidak punya bakat, jangan harap jadi pengusaha. Bakat tersebut antara lain naluri bisnis, keberanian mengambil risiko, kemampuan menganalisa lingkungan bisnis, dan kemampuan menjalin hubungan/interpersonal. Mitos semacam inilah yang membuat sebagian kita jika sedang gagal dalam merintis bisnis kemudian menjadikan mitos ini sebagai alasan kegagalan. Padahal saat ini, mitos itu sudah gugur karena ternyata sudah berkembang ilmu entrepreneurship/kewirausahaan yang bisa dipelajari dan jika dipraktekkan akan mengarahkan kita menjadi seorang pengusaha.

Mitos 3: Entrepreneur selalu merupakan penemu. Mitos ini mengakibatkan pemahaman yang keliru. Orang selalu berpikir untuk berbisnis harus dengan ide yang original alias tidak meniru. Padahal ada 3 prinsip dalam menciptakan bisnis, mencermati bisnis yang sudah ada, mempraktekkannya, lalu berinovasi.

Mitos 4: Entrepreneur adalah orang yang canggung, baik di dunia akademis atau di masyarakat. Mitos ini terbentuk karena memang ada beberapa pengusaha yang terpaksa harus drop out dari kuliah atau bisa jadi malah dipecat dari perusahaan. Lalu masyarakat memberi image yang kurang bagus. Padahal mereka mungkin saja punya karakter yang kuat dan luar biasa dan bermimpi untuk kebaikan masyarakat.

Mitos 5: Untuk menjadi entrepreneur harus memiliki uang/modal. Memang dalam mengoperasikan bisnis mau tidak mau akan membutuhkan uang atau modal. Namun, kegagalan bisnis tidaklah selalu ditentukan oleh uang, bahkan persoalan keuangan muncul merupakan muara dari banyak kesalahan semisal ketidakjujuran dan ketidakprofesionalan di dalam bisnis, perencanaan investasi yang jelek. Di dalam bisnis, modal yang utama adalah trust (kepercayaan). Dengan kepercayaan, insyaallah modal uang bisa diperoleh. Kalau kita memang benar tidak punya uang, namun dengan memiliki modal kepercayaan, kita dengan mudah bisa mengajukan proposal bisnis kepada investor (penyandang dana). Karena itulah, membangun kepercayaan mesti sejak muda.

Mitos 6: Anda perlu nasib baik untuk menjadi entrepreneur. Nasib baik sebenaranya adalah fungsi dari bertemuanya antara kemampuan, perencanaa dan keterampilan bisnis yang kita miliki dengan kesempatan yang datang. Jadi, apa yang nampak sebagai hoki atau keberuntungan bisnis sesungguhnya adalah hasil manis dari persiapan yang dilakukan oleh seorang entrepreneur.

Mitos 7: Entrepreneur adalah risk taker (pengambil resiko) yang ekstrem. Mitos ini seakan-akan memberikan penilaian, bahwa seorang entrepreneur adalah orang yang nekat di dalam berbisnis. Sebenarnya di sini ada unsur nekat. Hanya saja seorang entrepreneur mempunyai analisa, sehingga resiko yang diambil merupakan resiko yang sudah terukur dengan matang.

Mitos-mitos itulah yang akhirnya menjadi “mental blocks”. Harus kita dobrak supaya keberanian di dalam berbisnis muncul. Jika tidak didobrak, semakin tambah usia kita, semakin kuat mitos-mitos tadi mempengaruhi pikiran bawah sadar kita dan akibatnya akan menutup seluruh potensi, bakat dan kemampuan yang kita miliki. Selagi masih muda, mari mitos itu kita hilangkan melalui serangkaian proses learning by doing (belajar sambil mengerjakan).

Salah satu proses sederhana yang bisa kita lakukan antara lain, coba mencari seorang pengusaha yang relatif sukses dan jadikan dia sebagai teman diskusi dalam bisnis. Pilih dan cari bisnis yang kira-kira sesuai dengan minat, bakat dan sesuai kebutuhan masyarakat terdekat. Usahakan yang sifatnya jasa supaya kebutuhan modalnya sedikit. Sekarang informasi sudah bukan barang mahal jadi nampaknya tak sulit mencari ide. Praktekkan kira-kira selama 6-12 bulan (atau kira-kira sesuai dengan proses bisnisnya). Dalam proses ini perlu menjaga 3 hal, yaitu berdoa dan bertakwa, kerja keras plus cerdas dan tetaplah fokus pada mimpi bisnis yang sudah dipilih.

Berbisnis sebenarnya tidak mempermasalahkan muda atau tua. Hanya proses yang panjang dalam membangun bisnis, menjadikan yang muda lebih berkesempatan. Menghilangkan mitos (mental blocks) dalam berbisnis lebih prioritas daripada proses managerial bisnis. Dalam proses managerial bisnis, bisa jadi kita tidak mengoperasikan bisnis tapi kita tetap memiliki bisnis. Tapi pada saat pertama kali bisnis, kita memang harus pernah menjalankan bisnis sendiri. Caranya dengan berpraktek. Lakukan segala sesuatu dengan make it simple (jangan berpikir rumit tapi berpikirlah sederhana).

Saturday, September 15, 2012

Wednesday, June 15, 2011

DIRECTORY OF BARB3TA 1985


 Direcory of BARB3TA® 1985 FOUNDATION 
Guide to ORGANIZATIONS COMMUNITY kf_noor@yahoo.co.id

BARB3TA® 1985

Community Organizations

About the Barb3ta




BARB3TA® merupakan suatu komunitas organisasi yang kegiatannya berperan tidak hanya sebatas didalam ikatan kekeluargaan antara para anggota, namun bergerak juga dalam bidang Pendidikan, Ekonomi, Rohani (Agama) dan Sosial Budaya yang dalam realisasinya berupa tindakan tindakan kegiatan sosial dan pengembangan kegiatan kemasyarakatan serta kesehatan masyarakat pada umumnya.

BARB3TA® FOUNDATION 


Berangkat dari suatu pemikiran dan keinginan untuk dapat memaksimalkan peranan para Alumni dari SMAN XIII Bandung (SMAN VI Cimahi : kini) kepada Almamater khususnya dan Lingkungan Sosial serta Masyarakat pada umumnya, maka kami yang terhimpun dalam suatu wadah Ikatan Alumni dari SMA Negri XIII Bandung, kelas IPA B3 Angkatan 1985 dalam nama BARB3TA® (Barudak B3), ingin mewujudkan cita cita tersebut diatas.

Pembentukan YAYASAN BARB3TA®1985 (BARB3TA® 1985 FOUNDATION) :
1. Sebagai suatu jalan untuk meningkatkan tali persaudaraan dalam bentuk silaturahim.
2. Merupakan bukti nyata kepedulian BARB3TA® 1985 didalam tindakan tindakan kegiatan
Lingkungan Sosial dan Kemasyarakaan.
3. Keaktifan perkumpulan / organisasi ini adalah bertujuan untuk memingkatkan kesejahteraan
para anggota Keluarga Besar BARB3TA 1985.

PENGGALANGAN DANA

(Memaksimalkan peranan BARB3TA 1985 bagi para Alumni)



A. Beasiswa / Ikatan Dinas (ID) untuk putra - putri dari Keluarga Besar BARB3TA 1985.
B. Pembentukan KOPERASI BARB3TA 1985 dan BPR Syariah BAITUL MAL BARB3TA (BMB 1985) sebagai salah satu bentuk Unit Usaha dalam bidang Ekonomi dari Divisi Pengembangan Masyarakat (DPM) YAYASAN BARB3TA®1985 .

BAKSOS TO ALMAMATER

(Memaksimalkan peranan BARB3TA 1985 bagi Almamater )



1. Pemberian BEASISWA BARB3TA bagi siswa dari Almamater Rp 1,200,000.- / tahun, selama periode 3 tahun, dengan kategori Berprestasi, IPA klas B3 dan Tidak mampu (yang dibuktikan dengan Surat Keterangan dari yang berwenang)
2.. Bantuan Buku , Inventory, Sarana / Prasarana yang menunjang berlangsungnya KBM.
3. Penyaluran Dana Sedekah, Zakat, Infaq dan Wakaf dari pengelolaan THASARRUF SEZIWA UPZ BARBE3TA 1985.

BAKSOS LINGSOSMAS

(Memaksimalkan peranan BARB3TA 1985 bagi Lingkungan Sosial dan Masyarakat) 


1. Khitanan Massal Gratis bersama para Muzzaki dari BARB3TA 1985, yang diselenggarakan 2 kali dalam 1 tahun setiap bulan Juni dan Desember, atau menjelang liburan besar dalam setiap tahun.
2. Operasi Katarak Gratis berkerja sama dengan mitra kerja BARB3TA 1985 yang diselenggarakan secara rutin setiap bulan Oktober setiap tahunnya.
3. Pengobatan Massal Gratis yang secara rutinitas dilaksanakan disetiap tahunnya bersamaan dengan event Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).

ORGANIGRAM


1. DIVISI PENGEMBANGAN MASYARAKAT (DPM)

A. Pendidkan dan Lembaga Pelatihan 




B. Ekonomi

Koperasi BARB3TA, BPR Syariah BAITUL MAL BARB3TA, B3 Mart, B3 Retail Outlet, B3 WS


C. Rohani / Agama

Unit Pengelolaan Zakat / UPZ BARB3TA 1985, Thasarruf Seziwa, M T’alim, KBI, Baitul Mal


D. Sosial Budaya

Charity Fund, Bakti Sosial, Humanity Society


2. DIVISI PENGEMBANGAN RISTEK DAN SDM

A. Program Kerja dan Litristek
B. SDM dan Pendataan


NOMOR REKENING

  • BCA KCU Soekarno Hatta Bandung 40000 Kota Bandung Jawa Barat Account No : 3461029203
  • MANDIRI KCP Bdg Cimindi 13213 Kota Cimahi Jawa Barat Account No: 132 - 00 -0724380 - 2.