Tuesday, October 23, 2012

IJBA KLENIK


TINGKAH LAKU KEAGAMAAN YANG MENYIMPANG


            Norma norma dalam kehidupan sosial merupakan nilai-nilai luhur yang menjadi tolak ukur tingkah laku sosial. Tingkah laku yang menyalahi norma yang berlaku disebut tingkah laku yang menyimpang. Dalam kehidupan masyarakat terjadi berbagai bentuk tingkah laku keagamaan yang menyimpang. Karena itu, dalam kondisi yang bagaimanapun, bentuk tingkah laku yang menyimpang masih dapat diketahui dan dibedakan dari norma-norma yang berlaku.

A. Aliran Klenik

            Klenik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan akan hal-hal yang mengandung rahasia dan tidak masuk akal. Dalam kenyataan di masyarakat praktik yang bersifat klenik memiliki karakteristik yang hampir sama, yaitu:
  1. Pelakunya menokohkan diri selalu selalu orang suci dan umumnya tidak memiliki latar belakang yang jelas (asing)
  2. Mendakwahkan diri memiliki kemampuan luar biasa dalam masalah yang berhubungan dengan hal-hal yang gaib.
  3. Menggunakan ajaran agama sebagai alat untuk menarik kepercayaan masyarakat.
  4. Kebenaran ajarannya tidak dapat dibuktikan secara rasional.
  5. Memiliki tujuan tertentu yang cenderung merugikan masyarakat.

Aliran klenik sebagai bagian dari bentuk tingkah laku keagamaan yang menyimpang akan senantiasa muncul dalam setiap masyarakat, apa pun latar belakang kepercayaannya. Aliran-aliran klenik ini kemudian dapat pula berkembang menjadi aliran-aliran kepercayaan dan aliran kebatinan. Dan menurut Prof. Dr. Hamka, aliran klenik ini timbul oleh kekacauan pikiran lantaran kacaunya ekonomi, sosial, dan politik hingga mendorong masyarakat untuk melepaskan pikirannya dari pengaruh kenyataan, lalu masuk ke dalam daerah khayalan tasawuf. Kadang-kadang mereka merasa menganut agama yang berdiri sendiri, bukan Islam, bukan Budha, bukan Kristen. Di Indonesia sendiri, menurut H.M. As’ad el Hafidy, hingga tahun 1977, ada 156 jenis aliran kepercayan dan kebatinan.


B. Konversi Agama  

1. Pengertian Konversi Agama
Konversi agama menurut etimologi mengandung pengertian bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap agama atau masuk ke dalam agama. Sedangkan konversi agama menurut terminologi adalah suatu tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah  ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
            Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berada. Selain itu,konversi agama yang dimaksudkan memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:
  1. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianut.
  2. Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.
  3. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama yang lain, tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
  4. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itu pun disebabkan faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.


2. Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Konversi Agama
            Konversi agama disebabkan faktor yang cenderung didominasi oleh lapangan ilmu yang mereka tekuni, diantaranya:
  1. Para ahli agama menyatakan disebabkan oleh petunjuk Ilahi atau pengaruh supernatural.
  2. Para ahli sosiologi berpendapat, disebabkan oleh pengaruh sosial, diantaranya: pengaruh hubungan antar pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan atau non agama, pengaruh kebiasaan yang rutin, pengaruh propaganda, pengaruh pemimpin keagamaan, pengaruh perkumpulan berdasarkan hobi, pengaruh kekuasaan pemimpin.
  3. Para ahli psikologi berpendapat, disebabkan oleh faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern dan ekstern
  4. Para ahli ilmu pendidikan berpendapat, disebabkan oleh kondisi pendidikan.

3. Proses Konversi Agama
            Menurut H. Carrier, proses konversi agama terbagi dalam pentahapan sebagai berikut:
  1. Terjadinya disintegrasi sintesis kognitif dan mitovasi sebagai akibat krisis yang dialami.
  2. Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru.
  3. Tumbuh sikap menerima konsepsi agama yang baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya.
  4. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.
Dr. Zakiah Darajat memberikan pendapatnya berdasarkan proses proses kejiwaan yang terjadi melalui 5 (lima) tahap, yaitu:
  1. Masa tenang                             ; agama belum mempengaruhi sikapnya.
  2. Masa ketidaktenangan               ; agama telah telah mempengaruhi batinnya.
  3. Masa konversi                           ; konflik batin mengalami keredaan.
  4. Masa tenang dan tenteram         ; kepuasan terhadap keputusan yang sudah diambil.
  5. Masa ekspresi konversi              ; sikap menerima terhadap konsep baru dari ajaran agama.

C. Konflik agama

            Sistem nilai yang dianggap paling tinggi adalah nilai-nilai agama yang ajarannya bersumber dari Tuhan maka tak mengherankan bila agama sering dijadikan “alat pemicu” yang paling potensial untuk melahirkan suatu konflik. Walaupun demikian, terjadinya konflik agama tidak semata-mata disebabkan satu faktor tunggal, melainkan kumpulan dari berbagai faktor. Konflik agama sebagai perilaku keagamaan yang menyimpang, dapat terjadi karena adanya “pemasungan” nilai-nilai ajaran agama itu sendiri. Penyimpangan seperti itu antara lain oleh adanya sebab dan pengaruh yang melatarbelakanginya, antara lain:

1. Pengetahuan Agama yang Dangkal
            Secara psikologis, masyarakat awam cenderung mendahulukan emosi ketimbang nalar. Kondisi yang demikian itu, memberi peluang bagi masuknya pengaruh-pengaruh negatif dari luar yang mengatasnamakan agama. Apabila pengaruh tersebut dapat menimbulkan respons emosional, maka konflik dapat dimunculkan. Tegasnya, mereka yang awam akan berpeluang untuk diadu domba.

2. Fanatisme 
        Dalam kehidupan masyarakat beragama, ketaatan beragama cenderung dipahami sebagai “pembenaran” yang berlebihan. Pemahaman yang demikian itu akan membawa kepada sikap fanatisme, hingga menganggap hanya agama yang dianutnyalah sebagai yang paling benar. Adapun agama yang selain itu adalah salah. Sudut pandang yang seperti ini cenderung akan melahirkan kritik atau penyalahan terhadap penganut agama lain. Semuanya itu akan menimbulkan kerawanan hubungan antar pemeluk agama yang berpotensi untuk melahirkan konflik agama.

3. Agama sebagai Doktrin
         Ada kecenderungan di masyarakat, bahwa agama dipahami sebagai doktrin yang bersifat normatif. Pemahaman yang demikian menjadikan ajaran agama sebagai ajaran yang kaku. Pemahaman ajaran agama yang dipersempit ini cenderung menjadikan pemeluknya menggunakan penilai hitam-putih, yang menjurus pada munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam bentuk gerakan sempalan yang eksklusif. Kondisi seperti itu bagaimanapun akan mengurangi sikap toleran yang dapat mengganggu hubungan antar sesama umat beragama.

4. Simbol-simbol
            Agama merupakan sebuah keyakinan, juga mengandung simbol-simbol yang oleh penganutnya dinilai sebagai sesuatu yang suci yang perlu dipertahankan. Sebab terkadang penyalahgunaan dari simbol-simbol dapat menimbulkan anggapan sebagai bentuk “pelecehan” terhadap agama oleh pemeluknya. Semuanya itu akan menimbulkan kerawanan dan berpeluang menyulut konflik agama.

5. Tokoh Agama
            Bila terjadi konflik sosial, yang kebetulan pihak yang terlibat adalah bagian dari penganut agama yang berbeda, maka isu agama mudah masuk. Tidak jarang para tokoh agama ikut terpengaruh oleh isu-isu tersebut. Kalaulah hal seperti itu terjadi, maka dikhawatirkan para tokoh agama akan ikut terlibat dalam konflik. Biasanya kondisi seperti itu mudah mempengaruhi emosi massa.

6. Sejarah
            Dalam kasus sosial, kadang-kadang muatan sejarah keagamaan ini lagi-lagi dimunculkan, hingga dapat menyulut konflik. Tumpangan muatan sejarah masa lalu dapat mengobarkan semangat “balas dendam” antar penganut agama yang berbeda.

7. Berebut Surga
            Usaha untuk memperebutkan surga akan timbul bukan saja di dalam kelompok penganut agama yang berbeda, tapi juga bisa terjadi dalam kelompok seagama. Bila pandangan seperti ini meningkat pada klaim sepihak, maka konflik pun tidak akan dapat dihindarkan. Paling tidak akan menumbuhkan rasa permusuhan.

D. Terorisme dan Agama

            Terorisme adalah tindakan yang dengan sengaja menggunakan kekerasan terhadap sipil atau sasaran sipil untuk mencapai tujuan politik. Titik awal dari terorisme sering dikaitkan dengan fundamentalisme, khususnya Islam. Namun apakah terorisme terkait langsung dengan agama, memang sulit untuk dijawab secara singkat. Apalagi dengan agama tertentu.

1.  Fundamentalisme
Fundamentalisme merupakan usaha yang menghendaki agar kembali ke kepercayaan dasar atau dasar-dasar suatu agama. Fundamentalisme dalam Islam terarah kepada tradisi tajdid (pembaharuan) dan islah (perbaikan) yang mencakup gagasan politik dan aktivitas sosial, sejak awal abad hingga sekarang. Jadi istilah yang lebih tepat adalah kebangkitan dan aktivisme Islam. Kaitan antara fundamentalisme dengan terorisme kental dengan unsur politik di dalamnya. Menurut John L. Elposito, “fundamentalisme” kerap disejajarkan dengan aktivitas politik, ekstremisme, fanatisme, terorisme dan anti-Amerikanisme.

2. Radikalisme
            Radikalisme diidentikkan dengan sikap ekstrem dalam aliran politik. Seperti halnya fundamentalisme, maka radikalisme juga dianggap sebagai gerakan yang yang ekstremisme dan eksklusivisme. Gerakan yang dilatarbelakanginya menjadi cocok untuk dikaitkan dengan terorisme. Radikalisme pada dasarnya merupakan gerakan pendobrak terhadap kondisi yang mapan, karena didorong keinginan untuk menciptakan suatu kondisi baru yang diingini, dengan cara yang tepat. Dengan demikian, radikalisme tidak selalu berkonotasi negatif. Bila kondisi baru yang tercipta oleh adanya perubahan tersebut bermanfaat bagi peningkatan peradaban dan kehidupan manusia, barangkali radikalisme dapat diterima. Sebaliknya,bila gerakan tersebut menimbulkan malapetaka, maka radikalisme akan mendatangkan kecaman.

3. Mitos-mitos Keagamaan
            Pemikiran mitologis ini muncul dalam dua bentuk paradoksal. Pertama, radikalisme-eskapis, berusaha melepaskan kehidupan dunia, hidup bertapa, membebaskan diri dari berbagai kenikmatan duniawi yang dianggap racun dan bersifat maya. Kedua, radikalisme-teologis, membangun komunitas eksklusif. Mitologi keagamaan ternyata dapat membangkitkan radikalisme yang paradoksal, memiliki sudut pandang hitam-putih, kawan-musuh, suci-dosa, iman-kafir, surga-neraka.
                Gerakan terorisme yang digerakkan oleh radikalisme agama akan sulit dihilangkan. Gerakan ini akan muncul apabila terjadi krisis sosial. Di saat itu, mitos agama akan menjadi “dagangan” yang laris untuk menggerakkan para pendukungnya melakukan tindakan teror. Timbulnya gerakan ini mungkin dapat diantisipasi dengan meningkatkan pendidikan. Penganut agama yang memiliki pendidikan yang memadai akan mampu menjaga diri dari pengaruh negatif yang dilatarbelakangi mitos keagamaan. Kajian psikologi agama melihat bahwa terorisme merupakan bagian dari tingkah laku keagamaan yang menyimpang. Gerakan  seperti itu tak lepas dari faktor-faktor kejiwaan yang mempengaruhi para pendukungnya. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Konsep Messianisme
            Konsep messianisme atau Ratu Adil ini sebenarnya menjadi ikon (simbol cita-cita batin) masyarakat pinggiran yang miskin dan tertindas. Konsep messianisme ini dijumpai dalam setiap kelompok masyarakat dan juga agama. Konsep ini ada yang dikenal dengan sebutan Ratu Adil, Al-Mahdi, Mujaddid, reformis, mesiah dan sebagainya. Intinya adalah sama, yakni “tokoh” yang mampu membawa masyarakat dan menciptakan suatu kondisi kehidupan baru yang lebih baik, lebih adil dan lebih nyaman. Melalui janji-janji dan tampilan yang memukau, lazimnya tokoh ini mampu mempengaruhi massa umumnya dikaitkan dengan doktrin agama.

b. Menebus Dosa
            Dalam kondisi tertentu, konsep pertobatan ini dapat dinaikkan intensitasnya ke tingkat yang lebih tinggi, yakni “pengampunan total” dan “kehidupan surgawi”. Untuk mencapai tingkat terhormat dan mulia ini, perlu dilakukan melalui pengorbanan yang berat alternatif yang umumnya disuguhkan adalah berjihad di jalan Tuhan. Kiat serupa ini dapat memberi pengaruh psikologis yang bersifat sugestif, mampu mengubah sikap mental kelompok, hingga terdorong untuk berbuat nekad.

c. Memupuk Kebencian
            Klaim saling membenarkan antar agama akan menyulut rasa kebencian antar pemeluk agama yang tak berkesudahan. Tak jarang pemuka agama terjebak dalam anggapan diri sebagai “pahlawan agama”, bila mampu mengungkapkan kejelekan kelompok agama lain, hingga mampu menumbuhkan rasa kebencian yang berlebihan terhadap kelompok agama yang dianggap “musuh” itu di kalangan pengikutnya masing-masing. Dalam kondisi yang demikian, kelompok ini akan mudah digerakkan untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok saingannya.

E. Fatalisme

            Sikap pasrah yang mengarah kepada fatalisme (berserah kepada nasib) dapat dikategorikan tingkah laku keagamaan yang menyimpang. Sikap seperti ini setidaknya mengabaikan fungsi dan peran akal secara normal. Padahal agama menempatkan akal pada kedudukan yang tinggi. Dan tampaknya secara psikologis “pemandulan” fungsi akal dalam pemahaman nilai-nilai ajaran agama akan memberi imbas terbentuknya opini serta sikap keberagamaan para penganutnya, termasuk sikap pasrah tanpa pamrih (fatalisme). Secara psikologis, faktor yang melatarbelakangi munculnya fatalisme, Yakni:

1. Pemahaman yang Keliru.
            Sebagai manusia biasa, para agamawan memiliki latar belakang sosio-kultural, tingkat pendidikan, maupun kapasitas yang berbeda. Dalam kondisi seperti itu terbuka peluang timbulnya salah “tafsir” dalam memahami pesan-pesan kitab suci maupun risalah Rasul tersebut.

2. Otoritas Agamawan
            Dengan menggunakan otoritasnya yang berlebihan, pemimpin agama terjebak kepada upaya untuk memitoskan ajaran agama. Ajaran agama dijadikan sebagi alat untuk “menyihir” pengikutnya. Kata-kata yang dikeluarkan harus dianggap sebagi fatwa yang bila dilanggar akan berakibat buruk. Pemimpin agama ini berusaha menciptakan situasi psikologis pengikutnya melalui otoritas keagamaan yang ia miliki, hingga mempengaruhi terbentuknya sikap penurut.
            Manusia dalam pandangan behaviorisme adalah sebuah organisme, Skinner merumuskan bahwa:
  1. Pertimbangan perasaan, pemikiran dan gejolak batin tidak mempengaruhi terbentuknya tingkah laku
  2. Diakui adanya pengaruh faktor hereditas
  3. Pengaruh perbedaan kreativitas serta pengetahuan pribadi dari tradisi yang berlaku.

Dalam pendekatan psikoanalisa, tingkah laku menyimpang dipengaruhi oleh berbagai gejala kejiwaan sebagai reaksi terhadap kecemasan batin, bentuk reaksi tersebut adalah:
  1. Undoing                                    (pasif)
  2. Projection                                  (proyeksi)
  3. Rationalization                           (merasionalisasikan)
  4. Denial                                       (penolakan)
  5. Identification                              (mengidentifikasi)
  6. Displacement or sublimation       (memindahkan)
  7. Fixation and regression              (menyurut) 




-----------------------o0o-----------------------