Tuesday, February 12, 2013

ALLAH YANG MAHA SUCI

Allah yang Maha Suci



Allah




Manusia memiliki standar kesempurnaan.
Akan tetapi, sesempurna apa pun dalam pandangan manusia,
pasti tidak menjangkau kesempurnaan Allah yang sesungguhnya.



SubhanAllah, Allah adalah Zat Yang Mahakuasa, penggenggam alam semesta. Betapa pun Allah memiliki kesempurnaan dalam kekuasaan, tetapi Dia Mahasuci dari sifat kezaliman, kelemahan, dan ketidaksempurnaan. Mahasuci Allah yang tidak tersentuh dari sifat kekurangan apa pun.

‘Al Quddus’Al Quddus adalah salah satu asma Allah Azza wa Jalla yang sudah sangat dikenal. Dalam AlQuran, kata Al Quddus atau Allah Yang Mahasuci, sering didampingkan dengan kata Al Malik (Maharaja atau Zat Yang Maha Berkuasa), misalnya dalam QS Al Hasyr (59: 23) dan QS Al Jumu’ah (62: 1). Dalam kamus bahasa Arab, Al Quddus adalah ‘yang suci murni’ atau ‘yang penuh keberkahan’. Dari sini muncul berbagai penafsiran dari kata Al Quddus, di antaranya terpuji dari segala macam kebajikan.

Imam Al Ghazali mengatakan bahwa Allah sebagai Al Quddus adalah Dia yang tidak terjangkau oleh indra, tidak dapat dikhayalkan oleh imajinasi, dan tidak dapat diduga oleh lintasan nurani. Demikian sempurnanya Allah Swt. Dia tidak terkejar bentuk dan Zat-Nya oleh kekuatan indra. Indra manusia terlalu lemah untuk menjangkau keagungan Allah yang menggenggam alam semesta ini.

Mahasuci Allah dari beranak dan diperanakkan (QS Al Ikhlas, 112: 3). Allah tidak diserupai dan menyerupai apa pun (laisa kamitslihi syai’un). Jadi, kalau ada yang menganggap Allah itu menyerupai sesuatu, pendapat itu tidak bisa diterima. Sesuatu itu pastilah makhluk dan setiap makhluk pasti memiliki kelemahan.

Mahasuci Allah secara Zat dan perbuatan-Nya. Tidak ada satu pun perbuatan Allah yang cacat atau gagal. Mengatakan cacat dan gagal pada perbuatan Allah pun tidak layak. Allah tidak mungkin berbuat sesuatu yang gagal. Mahasuci Allah dari yang dianggap sempurna oleh makhluk. Manusia memiliki standar kesempurnaan. Namun, sesempurna apa pun dalam pandangan manusia, kesempurnaan Allah yang sesungguhnya tidak akan terjangkau. Akal manusia sangat terbatas. Manusia hanya mengenal 26 abjad dan sepuluh angka. Bagaimana mungkin makhluk yang serbaterbatas ini bisa menilai kesempurnaan Allah, Zat Penggenggam langit dan bumi?

Teladan Al Quddus

Agar bisa menghayati, menginternalisasikan, dan mengejawantahkan asma Allah ini, siapa pun dituntut untuk membersihkan hati dan pikiran dari hal-hal negatif dari kebencian, dendam kesumat, prasangka, kedengkian, kesombongan, rasa kekurangan, kesedihan, ataupun keputusasaan. Setelah itu, ia dituntut untuk mengisi hati dan pikirannya itu dengan muatan-muatan positif sehingga yang ada dalam relung hati dan pikiran hanyalah kebaikan semata. Ketika berucap, tiada yang terucap kecuali kebaikan; ketika bertindak, tiada yang muncul kecuali tindakan terpuji yang penuh perhitungan, tidak merugikan orang lain, tidak pula menyakitkan hati. Apabila hati suci, yang keluar adalah kesucian pula. Andaipun ada yang salah ucapan dan tindakannya, ia akan segera memohon ampun kepada Tuhannya dan meminta “keridhaan” kepada pihak yang disakitinya.

Jalaluddin Rumi, dalam Fihi Ma Fihi, membuat sebuah analogi yang sangat indah. Inilah kutipannya, “Kalau seseorang berbicara baik tentang orang lain, perkataan yang baik itu akan kembali kepada dirinya karena sebenarnya pujian itu adalah untuk dirinya sendiri. Seperti halnya orang yang menanam mawar dan bunga-bunga yang harum di sekitar rumahnya. Kapan pun dia memandang, yang dilihatnya adalah bunga mawar dan dedaunan yang harum baunya sehingga ia senantiasa merasa berada di surga. Kalau orang berbicara baik tentang orang lain, orang lain itu menjadi sahabatnya. Jika ia berpikir tentang orang terasebut, yang terpikir olehnya adalah seorang sahabat yang baik. Berpikir tentang sahabat yang baik adalah seperti bunga mawar dan taman bunga mawar, keharuman dan kedamaian. Akan tetapi, jika ia menjelek-jelekan orang lain, baginya orang lain itu tampak menyebalkan. Kalau dia ingat orang itu, sosoknya akan terlihat seolah-olah kalajengking, duri, atau tumbuhan kecil berduri muncul di depan matanya. Nah, kalau siang dan malam kamu dapat melihat bunga mawar dan taman serta padang rumput Iram (QS Al Fajr, 89: 7), mengapa kamu susah payah berjalan menjelajahi semak-semak berduri dan di antara ular-ular berbisa?

Pikiran dan tindakan bagaikan taman-taman mawar. Kalau hati kita dipenuhi mawar, apa pun yang dilihat, dibaui, hanyalah mawar dengan baunya yang semerbak. Itulah hati yang suci. Hati yang penuh kasih sayang. Hati yang telah tersirami sejuknya makna Al Quddus. Inilah hati Rasulullah yang mulia. Ingatkah kita ketika beliau dikejar-kejar dan dilempari batu oleh orang bani Tsaqif karena mendakwahkan Islam? Saat itu, beliau bersembunyi di kebun anggur milik Uthbah bin Rabi’ah. Dengan kaki yang penuh luka, dengan tubuh yang lemas, dan dengan air mata yang berurai, AlMusthafa memanjatkan doa-doa kepada Tuhannya:

“Ya, Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai, Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Engkaulah Pelindung bagi orang lemah dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, itu semua tidak kuhiraukan karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh, tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.”

Teladan apa yang bisa kita diambil dari asma Allah Al Quddus dan dari manusia agung yang hatinya telah dipenuhi kesucian?

Pertama, kita bisa menikmati apa pun ketetapan Allah tanpa prasangka buruk. Allah telah berjanji, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku”. Berburuk sangka kepada-Nya akan mendatangkan malapetaka. Kita harus tetap husnuzhan, pasti ada kebaikan dalam setiap kejadian. Maka, nikmatilah setiap kejadian sebagai sarana evaluasi diri. Yang terpenting, kejadian apa pun yang menimpa harus mengubah kita menjadi lebih baik.

Kedua, siap dengan ketidaksempurnaan diri. Apa yang kita banggakan sebagai manusia jika tidak memiliki iman? Kita serbakalah oleh binatang. Masuk ke air, ikan lebih lincah. Meski bisa menjadi pelari tercepat, kita masih kalah cepat oleh kuda. Manusia pun masih kalah kuat oleh badak, kalah besar oleh gajah. Hanya kekuatan imanlah yang membuat derajat manusia lebih tinggi dari makhluk lainnya. Oleh karena itu, layak bagi kita untuk menutup pintu kesombongan diri dan bukalah lebar-lebar pintu ketawaduan. Tiadalah orang yang rendah hati kecuali Allah akan meninggikan derajatnya; dan tiadalah orang yang meninggikan dirinya kecuali Allah akan rendahkan derajatnya.

Ketiga, siap dengan kekurangan orang lain. Kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa orang-orang terdekat kita tidak sempurna. Secara fisik, boleh jadi ia mendekati kesempurnaan. Akan tetapi, akhlak manusia tidak ada yang sempurna. Ada yang pemarah, pelit, atau egois. Kita harus terlatih menghadapi mereka, entah itu pasangan hidup, orang tua, anak, atau bahkan pembantu kita. Kesiapan mental dalam menerima kekurangan dan keterbatasan orang lain, insyaAllah akan membuat kita lebih mampu bersikap bijaksana. Orang yang stres dalam hidup adalah orang yang selalu ingin sempurna dalam segala hal. Kita boleh saja menginginkan yang terbaik, tetapi kesempurnaan tidak akan pernah ada. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Memang kita harus melakukan perencanaan yang matang dan optimal serta pelaksanaan yang hati-hati. Akan tetapi, kita pun harus siap bahwa hasil yang dicapai tidak akan pernah sempurna.

Sikapilah kekurangan orang lain sebagai ladang amal. Kita harus siap menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan menyukai kita. Lebih baik terus konsisten memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. Allah yang akan mengatur hati setiap orang. Betapa tidak, semua hati manusia ada dalam genggaman Allah. Inilah yang membuat kita harus selalu berbaik sangka kepada Al Quddus dalam kondisi apa pun.

Wallohualambisshawab