Friday, March 24, 2017

Investasi Reksa Dana : Pilihan Mendulang Uang Lebih






Doyan kulineran kan? Hayo ngaku! Nah, ternyata ada hubungannya lho antara kuliner sama berinvestasi di reksa dana.

Terkesan maksa ya? Tapi memang sengaja dihubung-hubungin biar gampang obrolin produk investasi yang belakangan ini lagi sering jadi tema khotbah pakar perencana keuangan.

Kaitannya antara menu kuliner sama reksa dana adalah sama-sama membutuhkan ‘koki’. Kalau menu makanan itu jelas-jelas ramuannya koki, nah kalau reksa dana itu peramunya adalah manager investasi.

Keduanya bertanggung jawab penuh sama hasil ‘olahannya.’ Kalau menu kuliner dirasakan di lidah, kalau reksa dana berasanya di saldo rekening yang makin membengkak.

Sebuah menu makanan pasti terdiri dari beberapa komponen seperti bumbu dan bahan baku. Tugasnya si koki meramu semuanya biar jadi menu makanan yang lezat. Begitu pun dengan reksa dana yang pada dasarnya berasal dari sejumlah komponen.

Komponen itu bisa berupa surat utang, deposito, obligasi, saham dan lain sebagainya. Tergantung dari kelihaian si manager investasi mengolah komponen itu agar keuntungan reksa dana berlipat-lipat.

Terlihat menarik bukan? Tapi tunggu dulu. Reksa dana tetap mengandung risiko, sama halnya dengan menu makanan yang dipilih.

Misalnya saja menyantap sop daging kambing pasti berisiko kolesterol dan tekanan darah naik. Kadang risiko itu diabaikan dulu lantaran tak tahan godaan sop daging kambing spesial.



Pertimbangan pilih makanan bukan sekadar kelezatannya semata tapi juga dampaknya terhadap kesehatan

Reksa dana pun demikian. Berinvestasi lewat reksa dana membuka peluang risiko yang lebih tinggi dari duit ditabung di bank atau deposito. Cuma risiko itu sepadan dengan keuntungannya yang lebih tinggi dari duit diparkir di tabungan.

Lagi-lagi sama halnya dengan menu makanan seperti sop daging kambing yang variannya banyak. Kayak sop kambing goreng, sop kambing spesial, Reksa dana juga punya banyak variannya.

Katakanlah Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) di mana produk ini isinya murni dari efek pasar uang. Efek pasar uang adalah efek utang yang jatuh temponya kurang dari setahun.

Sebut saja deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), obligasi pemerintah atau korporasi. Enaknya berternak duit di reksa dana adalah bebas pajak. Bandingkan sama deposito yang duit kita kena potongan pajak!

Terus ada lagi varian Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Ini merupakan reksa dana yang komposisi investasinya sampai 80 persen ditanam pada obligasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Lalu ada lagi Reksa Dana Campuran. Dari namanya sudah bisa ditebak kalau reksa dana ini kombinasi antara RDPU dan RDPT.



Tak hanya makanan yang punya varian, reksa dana juga! Ada varian RDPU, RDPT dan Campuran.

Cara bedakan varian reksa dana ini bisa dilihat dalam ‘prospektus’. Kalau di dunia kuliner, prospektus itu bisa diibaratkan menu makanan. Sebelum pesan kan mesti lihat menu makanan dulu biar tahu bedanya sop daging kambing asli Betawi sama Tegal dari komposisi ramuannya, bukan?

Sama halnya dengan reksa dana. Sebelum pilih produknya, baca prospektus itu hukumnya wajib. Kenapa? Karena dalam prospektus itu berisi panduan lengkap informasi tentang perusahaan, laporan keuangan dan ke mana larinya reksa dana itu diinvestasikan.

Prospektus ini bisa diperoleh dari manager investasi. Jadi sebelum putuskan ambil sebuah varian reksa dana, baca dulu prospektusnya.

Mirip kan kalau mau pilih sop daging kambing sesuai selera kita pasti baca menunya dulu. Ada pilihan sop daging kambing goreng, sop daging kambing spesial dan lain sebagainya yang tentu saja rasanya beda-beda.

Bila sop kambing itu diibaratkan reksa dana, maka RDPU, RDPT dan Reksa Dana Campuran itu pilihan menunya. Hasil pilihan reksa dana pun jelas berbeda-beda pula seperti beda rasa sop kambing goreng dengan spesial.

Terus rumus memilih reksa dana yang tepat bagaimana? Jawabnya sama seperti tujuan makan sop daging goreng apa yang spesial? Mau sekadar kenyang atau menikmati lidah bergoyang?

Begitu pun dengan investasi di reksa dana. Tujuan mengendapkan uang di situ untuk apa? Mau buat bekal dana pendidikan anak? Mau buat honeymoon jilid dua bareng yang tercinta? Naik haji? Tetapkanlah tujuannya dulu sebelum memutuskam ambil reksa dana sebagai kendaraan investasi dalam perencanaan keuangan.

Kalau masih bingung, silakan curhat sama manager investasi. Nanti dia akan bantu menganjurkan reksa dana yang tepat dengan tujuan berinvestasi untuk apa.

Contohnya saja dianjurkan beli produk reksa dana saham di sektor infrastruktur. Alasannya karena tarif setrum PLN naik, sehingga banyak investor yang melirik sektor infrastruktur yang tak terimbas langsung sama kenaikan listrik.


Sektor infrastruktur Indonesia

Terus apakah wajib berinvestasi di reksa dana? Ya tak ada yang bilang wajib. Lagi pula Bapepam sudah mewanti-wanti kalau investasi itu adalah dana lebih yang dimiliki. Maksudnya, ketika seseorang memiliki ‘dana lebih’ maka wajar orang berpikir bagaimana memperbanyak atau meningkatkan nilai dari dana tersebut.

Tak perlu membayangkan ‘dana lebih’ itu puluhan juta rupiah. Kelebihan reksa dana itu adalah poduk yang efisien banget karena bisa dimulai dengan dana yang relatif kecil, mulai Rp 100 ribuan.

Siap ber-reksa dana ria? Siapa takut!

No comments:

Post a Comment