Tuesday, December 25, 2012

ALLAH YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang




allah

Telah Aku ciptakan rahim dan memberinya nama yang berasal dari nama-Ku. Barang siapa menjaganya (rahim atau persaudaraan), Aku akan menjaga ikatan dia dengan-Ku; dan barang siapa memutuskannya, Aku akan memutuskan dia dari-Ku.

Alkisah, di sebuah negara Afrika terjadi perang saudara yang merenggut puluhan ribu nyawa. Peperangan ini tidak saja menyisakan duka yang mendalam, tetapi juga meninggalkan kepedihan yang berkepanjangan. Inilah yang dialami sebuah keluarga saat desanya diluluhlantakkan. Sang anak harus rela melihat ayahnya dibunuh dan sang ibu pun diperkosa di depan matanya. Setelah itu, kedua tangan sang ibu dipotong. Kemudian, dengan tanpa perasaan, tangan sang anak pun dipotong. Hanya atas karunia Allah, mereka tidak meninggal.
Setelah kejadian yang sangat cepat itu berlalu, seluruh sudut desa dibakar hingga tidak menyisakan rumah satu pun. Semua penduduk tewas kecuali mereka berdua. Demi menyelamatkan diri dan anaknya, dengan tangan terputus dan masih mengeluarkan darah, sang ibu berusaha menggendong anaknya dari dari tempat itu. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, ia berjalan. Setelah beberapa hari, tibalah keduanya di sebuah desa yang cukup besar. Perjuangan mereka tidak sia-sia, penduduk di desa tersebut membawa mereka ke sebuah klinik dan akhirnya nyawa mereka terselamatkan.
Apa yang menyebabkan sang ibu mampu berjalan sejauh itu? Padahal, ia harus menggendong anaknya dalam kondisi yang tidak normal. Tangannya terputus dan darahnya masih keluar yang tentu saja sakitnya tidak terperikan. Kekuatan apa yang mendorong sang ibu melakukan hal yang di luar nalar itu? Kekuatan itu adalah kekuatan cinta. Atas dasar kasih sayanglah, sang ibu rela berjalan jauh demi menyelamatkan anaknya.
Kisah senada pernah diungkapkan pula oleh Rasulullah saw. Pernah, suatu hari Rasululah bersama para sahabat dalam perjalanan kembali dari perang melihat seorang ibu lari menyeruak ke tengah-tengah bekas pertempuran. Ia gelisah, wajahnya menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia sedang mencari putranya. Ia berlari dihadang debu yang beterbangan disapu angin.
Akhirnya, ia menemukan putranya tersebut. Didekapnya sang putra penuh kerinduan bercampur kecemasan. Diberinyalah air susu. Matahari menyengat panas mengenai kulit anak itu. Dengan perlahan, ibu tersebut menggerakkan tubuhnya, dihadangnya sengatan matahari itu dengan punggungnya. Rasul menyaksikan kejadian itu lalu ia berkata kepada sahabat yang lain, “Lihat, betapa sayangnya ibu itu kepada anaknya. Mungkinkah ibu itu melemparkan anaknya ke api neraka?” Para sahabat menjawab, “Tidak mungkin, ya, Rasulullah.” Lalu, Rasul berkata, “Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu itu.”                               
Allah sebagai Ar Rahman dan Ar Rahim
Sudah menjadi fitrah bahwa setiap ibu memiliki kasih sayang yang amat besar kepada buah hatinya seperti yang ditunjukkan oleh sang ibu dalam kisah di atas. Demikian pula makhluk yang lain. Sejak lahir, mereka dianugerahi rasa kasih sayang. Perasaan ini tidak datang sendiri, tetapi dipancarkan dari sumber kasih sayang yang amat besar. Kasih sayang ini terpancar dari rahmat Allah Swt. Dialah ‘Ar RahmanAr Rahman  dan  Ar RahimAr Rahim. Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa kasih sayang yang kita miliki berasal dari satu bagian dari seratus bagian yang dimiliki-Nya. Beliau bersabda, “Allah Swt. menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan dan diturunkan-Nya di bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagi kepada seluruh makhluk, yang tecermin antara lain) pada seekor biantang yang mengangkat kakinya dari anaknya, terdorong oleh rahmat dan kasih sayang, khawatir jangan sampai menyakitinya” (HR Muslim).
Dilihat dari banyaknya penyebutan dalam Al Qur’an, kedua nama ini termasuk yang paling sering disebut.Ar Rahman disebut sebanyak 57 kali, sedangkan Ar Rahim sebanyak 95 kali. Oleh karena itu, ada ulama yang menyatakan bahwa banyaknya penyebutan menunjukkan bahwa kedua nama sekaligus sifat inilah yang paling dominan dibanding sifat-sifat Allah yang lain, bahkan semua sifat Allah merujuk pada Ar Rahman dan Ar Rahim.
Dalam bahasa Arab, kedua kata ini berbentuk kata sifat (intensive form of the adjective) tertinggi. Ar Rahman digunakan khusus untuk Allah. Para penerjemah memberikan beberapa arti, di antaranyaGracious (Pemurah) dan Merciful (Penyayang), Compassionate (Pengasih) dan Merciful (Penyayang),Beneficent (Pemurah) dan Merciful (Penyayang), serta The MercifulThe Compassionate (Yang Maha penyayang lagi Maha Pengasih).
Kedua kata tersebut berasal dari kata yang sama, yakni rahima, yang secara umum berarti ‘rahmat’ atau ‘belas kasih’. Dari akar kata yang sama, muncul kata rahim ‘kandungan’. Menurut Ibnu Faris, seorang ahli bahasa, semua kata yang terdiri atas huruf raha, dan mim, mengandung makna ‘kelemahlembutan, kasih sayang, dan kehalusan’. Kata ar rahman setimbang dengan fa’lan yang menunjukkan pada kesempurnaan atau kesementaraan, sedangkan rahim setimbang dengan fiil (kata kerja) yang menunjukkan pada kesinambungan dan kemantapan.
Itulah salah satu sebab mengapa tidak ada bentuk jamak dari kata ar rahman, yakni karena kesempurnaannya. Tidak ada juga yang wajar disebut rahman kecuali Allah Swt. Berbeda dengan katarahim yang memiliki bentuk jamak, yakni ruhama sebagaimana ia juga dapat menjadi sifat Allah Swt. dan selain-Nya. Dalam Al Qur’an, kata rahim digunakan untuk menunjukkan sifat Nabi Muhammad saw. yang menaruh belas kasih yang amat dalam terhadap umatnya seperti yang tercantum dalam
                           9-128
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS At Taubah, 9: 128)
Kata rahmat dapat dipahami sebagai sifat Zat. Oleh karena itu, Ar Rahman dan Ar Rahim merupakan sifat Zat Allah Swt. Syeikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa Ar Rahman adalah rahmat Allah yang sempurna, tetapi sifatnya sementara dan dicurahkan kepada semua makhluk. Dia Ar Rahman berarti Dia mencurahkan rahmat yang sempurna. Ini berarti Allah Swt. mencurahkan rahmat yang sempurna dan menyeluruh, tetapi tidak langgeng terus-menerus. Rahmat menyeluruh tersebut menyentuh semua manusia, baik mukmin atau kafir, bahkan semua makhluk. Namun, karena ketidaklanggengannya, ia hanya berupa rahmat di dunia.
Adapun kata Ar Rahim, ia menunjuk pada sifat Zat Allah atau menunjukkan pada kesinambungan dan kemantapan nikmatnya. Kemantapan dan kesinambungan hanya dapat terwujud di akhirat kelak. Pada sisi lain, rahmat ukhrawi hanya diraih oleh orang taat dan bertakwa.
Walaupun berbeda kecenderungan, kedua sifat ini menunjukkan betapa luasnya  rahmat Allah Swt. Di dunia, setiap manusia mendapatkannya: mukmin atau kafir, ahli taat atau pendosa, Allah tidak membeda-bedakannya.
Teladan Ar Rahman dan Ar Rahim
Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang kecuali akan memperindah orang tersebut. Tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut. Oleh karena itu, sudah sepantasnya jika kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan Allah Swt. untuk kemudian meneladaninya dengan menjadikan diri kita penebar kasih sayang kepada sesama.
Kasih sayang dapat diibaratkan pancaran sinar matahari pada pagi hari. Dari dulu sampai sekarang, ia terus-menerus memancarkan sinarnya dan ia tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya, seperti itulah sumber kasih sayang di qalbu kita. Ia benar-benar melimpah terus, tidak pernah ada habisnya.
Untuk memunculkan kepekaan dalam menyayangi orang lain, kita bisa mengawalinya dengan menyayangi diri sendiri. Hadapkanlah tubuh ini ke cermin seraya bertanya, “Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api Jahanam?”
Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap Allah, menatap Rasulullah saw., menatap para kekasih Allah di surga kelak, atau malah akan terburai karena maksiat yang pernah dilakukannya? Bibir kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?
Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana sehingga layak berdampingan dengan pemilik tubuh mulia, Rasulullah saw., atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu dalam kerak Jahanam?
Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api Jahanam? Mudah-mudahan dengan becermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.
Setelah itu, jauhkan diri kita dari meremehkan makhluk ciptaan Allah sebab Allah  tidak menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang diciptakan Allah Swt. penuh dengan ilmu dan pelajaran. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia Allah Azza wa Jalla adalah sarana bertafakur kalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.
Ada sebuah kisah, pada hari Akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada Allah dengan membawa aneka pahala ibadah. Akan tetapi, Allah mengecapnya sebagai ahli neraka. Ternyata, suatu ketika, ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan sampai mati kelaparan. Ternyata, walau ia seorang ahli ibadah, laknat Allah tetap menimpanya karena tidak menyayangi makhluk lain.
Namun, ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba, datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah selopnya untuk dipakai mencedok air. Setelah didapat, diberikannya air tersebut pada anjing yang kehausan tersebut. Dengan izin Allah, terampunilah dosa wanita ini. Demikianlah, jika hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya Allah keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.
Hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan melakukan sesuatu untuk orang lain dengan ikhlas. Ketika kita sudah menjadi penyebar kasih sayang, Allah akan mengirimkan kepada kita tangan-tangan lembut yang akan menjahit luka-luka kehidupan kita dengan jarum-jarum halus kasih sayang. Ketika kita sudah menjadi penyebar kebaikan, Allah akan menggerakkan tangan-tangan mulia yang akan menyiramkan hujan kebaikan pada taman kehidupan kita. Ketika kita sudah berusaha membahagiakan orang-orang di sekitar kita, Allah akan membukakan mata kita untuk melihat keindahan yang memesonakan yang ada di sekitar kita. Apa lagi balasan perbuatan baik selain perbuatan baik lagi. 
Barokalloh fiikum 

Wallohualambisshawab